Peningkatan Kemampuan Menulis Pesan di Media Sosial dengan Kesantunan Berbahasa Indonesia Masyarakat Kampung Sawah Bekasi

Authors

  • Krisanjaya Krisanjaya Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun Muka, Jakarta 13220, Indonesia
  • Aulia Rahmawati Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun Muka, Jakarta 13220, Indonesia
  • Asisda Wahyu Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun Muka, Jakarta 13220, Indonesia
  • Ida Widia Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Jawa Barat, 40154, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.58797/teras.0401.05

Keywords:

language politeness, politeness strategies, writing literacy, social media, kesantunan berbahasa, strategi kesantunan, literasi menulis, media sosial

Abstract

Abstract

Social media is a collection of applications that enable users to interact online. Through these platforms, individuals can share photos, videos, news, and short stories. This accessibility allows information to spread easily to anyone with a digital device. However, such interactions often involve impolite expressions that may disrupt communication, both in process and in meaning. Kampung Sawah, a Betawi community, has a distinctive feature where three houses of worship stand side by side. Despite practicing Islam, Catholicism, and Christianity, its residents have preserved family ties since before Indonesia's independence. This harmony has been maintained through shared customs, traditions, and language, despite differences in religious beliefs. In the context of social media use, the community of Kampung Sawah, including teachers, students, and parents of elementary school children in Jatimurni, is encouraged to practice polite communication. Training on polite writing emphasizes the importance of maintaining the harmony and tolerance that have long characterized Kampung Sawah. This program aims to improve writing literacy by enabling participants to distinguish between polite and impolite language and to transform inappropriate expressions into respectful ones. Moreover, the training seeks to foster wise attitudes in responding to impolite remarks while providing positive examples of polite writing on social media. As a result, the Kampung Sawah community has been able to apply politeness strategies, including direct communication, positive and negative politeness, and indirect strategies. Such understanding helps them avoid harsh words, curses, and other expressions that undermine human dignity.

Abstrak

Media sosial merupakan kumpulan aplikasi digital yang memungkinkan penggunanya berinteraksi secara daring dengan berbagi informasi dalam bentuk foto, video, berita, hingga cerita singkat. Kemudahan ini membuat penyebaran informasi menjadi sangat cepat dan luas. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan berupa penggunaan bahasa yang tidak santun, yang dapat mengganggu jalannya komunikasi, baik dari segi proses maupun isi pesan. Di tengah situasi ini, penting untuk mengembangkan kesadaran berbahasa santun dalam bermedia sosial, terutama di komunitas dengan latar belakang keberagaman. Kampung Sawah, sebuah komunitas masyarakat Betawi di Kelurahan Jatimurni, menjadi contoh unik kerukunan, di mana tiga rumah ibadah berdiri berdekatan, dan masyarakat Islam, Kristen, serta Katolik hidup berdampingan dalam ikatan kekeluargaan yang telah terjalin jauh sebelum Indonesia merdeka. Harmoni ini dijaga melalui kesamaan adat, budaya, dan bahasa. Oleh karena itu, pelatihan menulis pesan santun di media sosial bagi warga, guru, murid, dan orang tua murid SD di Kampung Sawah menjadi sangat penting. Pelatihan ini menekankan penulisan pesan yang mendukung kerukunan dan toleransi, serta mengenalkan bentuk-bentuk bahasa yang santun dan tidak santun. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan menulis secara santun dengan pendekatan strategi pembicaraan langsung, kesantunan positif dan negatif, serta strategi pembicaraan semu. Dengan pemahaman ini, masyarakat mampu menghindari penggunaan makian, umpatan, dan ungkapan yang merendahkan, serta menumbuhkan sikap bijak dan memberi contoh positif dalam komunikasi digital sehari-hari.

References

Abidin, Y., Mulyati, T., & Yunansah, H. (2018). Pembelajaran literasi: Strategi meningkatkan kemampuan literasi matematika, sains, membaca, dan menulis. Bumi Aksara.

Alpian, V. S., & Yatri, I. (2022). Analisis kemampuan membaca pemahaman pada siswa sekolah dasar. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(4), 5573–5581. https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i4.3298

Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some universals in language usage. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511813085

Chaer, A. (2010). Kesantunan berbahasa. Rineka Cipta.

Garbe, A., Ogurlu, U., Logan, N., & Cook, P. (2020). COVID-19 and remote learning: Experiences of parents with children during the pandemic. American Journal of Qualitative Research, 4(3), 45–65. https://doi.org/10.29333/ajqr/8471

Grusec, J. E. (2011). Socialization processes in the family: Social and emotional development. Annual Review of Psychology, 62, 243–269. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.121208.131650

Hardiyanti, W. M. (2022). Penerapan jurnal pembiasaan literasi membaca di SMP Negeri 1 Mojogedang. Literasi: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya, 6(2), 268–281. https://doi.org/10.25157/literasi.v6i2.7901

Ide, S. (1989). Formal forms and discernment: Two neglected aspects of universals of linguistic politeness. Multilingua, 8(2–3), 223–248. https://doi.org/10.1515/mult.1989.8.2-3.223

Ismiyati, I., Nababan, M. R., Santosa, R., & Wiratno, T. (2025). From street to elite: Analyzing politeness strategies in a socially divided Bronx in Vampires vs. the Bronx. Forum for Linguistic Studies, 7(2), 1105–1114. https://doi.org/10.30564/fls.v7i2.8361

Keefe, E. B., & Copeland, S. R. (2011). What is literacy? The power of a definition. Research and Practice for Persons with Severe Disabilities, 36(3–4), 92–99. https://doi.org/10.2511/027494811800824507

Kendeou, P., McMaster, K. L., & Christ, T. J. (2016). Reading comprehension: Core components and processes. Policy Insights from the Behavioral and Brain Sciences, 3(1), 62–69. https://doi.org/10.1177/2372732215624707

Kinda, A. C., Aisyah, N. N., & Akbari, A. A. (2024). Peran orang tua dalam pendidikan anak: Studi kasus pada keluarga dengan kedua orang tua bekerja. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Non Formal, 2(1), 224–230. https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnpnf/article/view/27206

Leech, G. (2014). The pragmatics of politeness. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780195341386.001.0001

Lestari, P. D., Herlina, E., Putri, A. N., & Giwangsa, S. F. (2023). Pengaruh gerakan literasi terhadap kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 7(6), 4003–4009. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i6.6633

Marzuki, G. A., & Setyawan, A. (2022). Peran orang tua dalam pendidikan anak. Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 1(4), 53–62. https://doi.org/10.55606/jpbb.v1i1.809

Noorbani, M. A. (2019). Kerukunan umat beragama di Kampung Sawah Kecamatan Pondok Melati Kota Bekasi. Al-Qalam, 25(2), 285–308. https://doi.org/10.31969/alq.v25i2.718

Pangestu, P. (2018). Modal sosial dan kerukunan antar umat beragama: Studi kasus komunitas Suara Kampung Sawah, Bekasi [Bachelor's thesis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta]. Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/44467

Prasetya, A. I. (2019, January 27). Segitiga emas Betawi Kampung Sawah milik Muslim dan Kristen. detikNews. https://news.detik.com/berita/d-4402474/segitiga-emas-betawi-kampung-sawah-milik-muslim-dan-kristen

Rahmawati, S., & Masyithoh, S. (2024). Peran penting orang tua dalam mendukung proses pembelajaran anak di tingkat MI/SD. Elementar: Jurnal Pendidikan Dasar, 4(1), 33–48. https://doi.org/10.15408/elementar.v4i1.38781

Sukmawati, A., Ni'ma, S. L., & Marsanti, A. P. N. (2023). Peranan budaya literasi dalam membentuk pendidikan karakter siswa. Jurnal Basicedu, 7(4), 2051–2060. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i4.5839

UNESCO. (2006). Education for all global monitoring report 2006: Literacy for life. UNESCO. https://en.unesco.org/gem-report/report/2006/literacy-life

Wardhani, T. Z. Y., & Krisnani, H. (2020). Optimalisasi peran pengawasan orang tua dalam pelaksanaan sekolah online di masa pandemi COVID-19. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 7(1), 48–59. https://doi.org/10.24198/jppm.v7i1.28256

Wulandari, N. M. R., Wulan, N. S., & Wahyudin, D. (2021). Analisis kemampuan membaca pemahaman dalam pembelajaran multiliterasi siswa sekolah dasar. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(5), 2287–2298. https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i5.833

Yus, F. (2011). Cyberpragmatics: Internet-mediated communication in context. John Benjamins. https://doi.org/10.1075/pbns.213

Downloads

Published

2025-06-30

How to Cite

Krisanjaya, K., Rahmawati, A., Wahyu, A., & Widia, I. (2025). Peningkatan Kemampuan Menulis Pesan di Media Sosial dengan Kesantunan Berbahasa Indonesia Masyarakat Kampung Sawah Bekasi. Mitra Teras: Jurnal Terapan Pengabdian Masyarakat, 4(1), 49–58. https://doi.org/10.58797/teras.0401.05

Similar Articles

1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.